AKU, DIA DAN HUJAN

Hujan punya cerita tentang kita. Hujan mengerti tentang betapa aku merindukanmu, betapa aku mengharapkanmu kembali ke sampingku. Dan hujan pula yang tahu seberapa besar aku merindukan kisah denganmu.

“Far, kamu tau Evan mau pindah?” pertanyaan Kevin spontan membuatku kaget.

“Nggak lucu tau bercandamu…,” kataku.

“Serius Far, dia mau pindah ke London. Aku aja baru tau dari Risa tadi. Katanya lusa dia berangkat,” Kevin mencoba meyakinkanku.

“Kok dia nggak cerita sama aku yah?” tanyaku pada diri sendiri.

“Thanks ya Vin infonya, aku mau ke rumah Evan dulu.”

Aku kemudian bergegas mengayun kencang sepedaku ke salah satu sudut di kompleks perumahan itu. Tujuanku cuman satu, menanyakan kebenaran kepada Kevin.

Aku dan Kevin sudah kenal dekat sejak kecil. Kemanapun kami selalu bersama. Bisa dibilang kami tak bisa terpisahkan. Dimana ada Kevin di situ juga ada aku, begitu pun sebaliknya. Aku hanya ingin melindunginya, dimana pun dia berada. Bahkan orang tuaku dan orang tua Kevin sangat senang dengan keakraban kami. Saat mereka sedang dinas ke luar kota, Kevin selalu menginap di rumahku. Ibuku pun senang dengan kehadiran Kevin di hidup kami.

“Kevin…,” panggilku sembari menyandarkan sepedaku di tembok rumahnya.

Aku langsung masuk ke rumah tanpa permisi. Yaa, ini sudah seperti rumah keduaku. Orang tua Kevin juga sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri, terlebih setelah ayahku meninggal, ayah Aralah yang menggantikan sosok ayahku.

“Kenapa Far?” kudengar suara dari belakang rumahnya. Kualihkan tujuanku ke taman di belakang rumah Ara.

“Jelasin, apa yang kamu sembunyiin dari aku?” tanpa basa-basi aku langsung bertanya padanya.

“Sembunyiin apa sih Far? Aku nggak sembunyiin apa-apa,” terlihat ekspresi Kevin mulai berubah.

“Kamu mau pindah kan? Iya kan? Kenapa kamu nggak mau ngomong ke aku sih Vin?”

“Maaf Far,” Kevin menunduk. Perlahan kulihat air mata membasahi wajahnya. “Maaf..”

Aku berjalan menghampirinya. Kunaikkan wajahnya yang masih menunduk. Kuusap airmata yang mengalir di pelupuk matanya. Tak tega aku melihatnya menangis, apalagi untuk melukai perasaannya.

“Maaf, aku udah bikin kamu nangis. Aku cuman nggak mau kamu bohong sama aku,” Kevin memelukku. Aku terdiam.

“Maafin aku Far, aku nggak bermaksud bohongin kamu, aku cuma takut aku nggak bisa ninggalin kamu…”

“Tapi Vin. Aku bakal jauh lebih sedih kalau disaat terakhir sahabatku di samping aku, justru aku nggak ngasih kenangan manis buat dia. Udah yaa, jangan nangis lagi,”

Terlihat awan mendung mulai menyelimuti langit. Titik demi titik air mulai berjatuhan membasahi bumi. Semakin deras. Kuajak Kevin untuk memasuki rumah.

“Ujan Vin, masuk yuk…”

“Nggak mau ah Far, udah lama kita nggak ujan-ujanan. Aku pengen ngelewatin hujan ini bareng kamu. Belum tentu kan kita bisa bareng kayak gini lagi?”

“Yaudah yuk aku temenin.”

Kami berlari menerjang hujan. Bermain-main bersama percikan hujan. Terlihat Kevin tertawa tanpa beban. “Ah, aku pasti akan sangat merindukan tawanya,” gumamku. Yaa, kita sama-sama menyukai hujan. Mencintai setiap titik yang terlahir dari awan mendung.

***

Sebelum matahari mulai menampakan wujudnya, aku telah duduk di halaman rumah Kevin. Hari ini saatnya aku dan dia berpisah. Aku tak ingin melewatkan waktu berharga dengan sahabatku.

“Mau kemana kita hari ini?” tanya Kevin bersemangat.

“Ke taman aja yuk,”

“Okee, ayo kita cabut,”

Aku dan Kevin duduk di atas rumput taman. Kita sama-sama terdiam. Masih dengan lamunan masing-masing. Tiba-tiba suara Kevin mengagetkanku.

“Nyanyiin aku lagu dong Far.”

“Males ah…”

“Tega nih? Ayolah,” bujuk Kevin.

“Iya deh, aku ambil gitar dulu ya…”

Aku berlari memasuki rumah. Tak berapa lama aku kembali dengan gitar ditanganku.

Hanya denganmu aku berbagi

Hanya dirimu paling mengerti

Kegelisahan dalam hatiku

Yang selama ini tak menentu

Tak ada ragu dalam hatiku

Pastikan aku jadi cintamu

Deiring waktu yang tlah berlalu

Mungkin kau yang terakhir untukku

Terputar kembali kenangan-kenangan indah bersama Ara. Semua kisah sedih dan senang yang kita lewati bersama.

Akan kulakukan semua untukmu

Akan kuberikan seluruh cintaku

Janganlah engkau berubah

Dalam menyayangi dan memahamiku

Semua waktu yang telah kita lewati berdua. Canda dan tawanya. Senyum dan tangisnya. Aku pasti akan sangat merindukannya.

Pegang tanganku, genggam jariku

Rasakan semua hangat diriku

Mengalir tulus untuk cintamu

Tak ada yang lain di hatiku

Aku terdiam. Kulihat butir halus muncul perlahan di pelupuk matanya.

“Kamu nggak apa-apa kan?” tanyaku.

“Far, tetep inget aku yaa,” ucap Kevin lirih.

“Pasti lah! Aku bakal tetep inget sama kamu, sahabat sejatiku.”

Kuraih sebuah kotak yang terletak di sampingku. Kuberikan kotak kecil itu untuk Kevin.

“Nih, aku ada kenang-kenangan buat kamu, biar kamu inget aku terus.”

“Gelang couple?” tanya Kevin heran, setelah dia membuka hadiahku.

“Iya, ini sepasang. Pasangannya ada di aku. Biar kita yakin kalo suatu saat nanti kita bakal ketemu lagi. Aku pakein ya?” ucapku. Kevin mengangguk.

I will miss you so much Fara,” Kevin menunduk sedih.

Me too, Kevin. Jaga diri baik-baik yah.”

Diiringi dengan hujan, perpisahan pun tak terelakan. Kevin telah pergi meninggalkan aku dan semua tempat kenangan kita.

“Aku pasti bakal balik lagi ke sini, tungguin aku yah…,” teriak Kevin dari kejauhan. Aku hanya tersenyum. Raganya kini tak lagi bersamaku. Aku dan dia kini telah terpisah.

Awan hitam masih terus muncul, membuat sang bintang tak juga menampakkan sinarnya. Aku masih duduk melamun di trampolinku. Membiarkan hujan mengguyur ragaku.

“Radit ayo masuk nak, mau sampai kapan kamu di sini?” Suara di belakangku mengagetkanku.

“Mah, Fara nggak bisa pisah dari Kevin.”

“Udah nak, kalo Tuhan ijinin pasti kalian ketemu lagi. Ayo masuk, kamu udah basah kuyup nih.”

“Iya mah…”

3 tahun berjalan aku dan Kevin cuma bisa komunikasian lewat video call dan email. Kevin tetap melanjutkan study nya di London dan meneruskan cita-citanya yang ingin menjadi Arsitek, dan aku disini melanjutkan study ku untuk menjadi Fashion Designer.

Akhirnya kita bertemu lagi di Jakarta, setelah lulus Sarjana Kevin pulang ke Indonesia. Dan akupun juga sudah mempunyai butik yang dari dulu saya impikan. Di taman dekat komplek kita bertemu dan hujan turun lagi disaat pertemuan itu datang lagi. Dan Kevin menyatakan perasaan nya cintanya untuk saya yang selama ini ternyata dia pendam sejak lama, dan akupun juga begitu sebaliknya aku rela menunggu Kevin pulang kembali bersamaku, karena aku yakin cinta sejati pasti akan dipertemukan untuk orang yang saling mencintai dengan tulus.

Aku tak pernah berharap banyak pada hujan. Yang aku minta hanya jangan sampai hujan pisahkan lagi aku dengan orang yang kusayang. Karena aku ingin menikmati indahnya langit setelah hujan bersama dia yang kucintai.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s